Jumat, 19 Agustus 2016

Menceritakan tentang Kekasih

Bagian Pertama.

Aku berkenalan dengan dia yang kemudian jadi kekasihku. Tapi kekasihku tidak menatapku sama sekali. Apakah aku seburuk itu? Atau dia memang tidak ada niat berkenalan sama sekali?
Penampilannya sangat nyentrik dan berbeda dari kebanyakan pria. Siapa saja bisa tertarik dengannya, apa lagi aku waktu itu. Rasa tertarik bisa berkembang menjadi hal-hal yang tidak terkira, pada siapa saja. Saat itu aku masih berpacaran dengan mantan kekasih, temannya, dan dia berpacaran dengan mantan kekasihnya, temanku. Dan itu membuatku takut.

Aku cukup mengenalnya yang kemudian jadi kekasihku. Tidak pernah berjumpa lagi dengannya yang ternyata sedang cukup sibuk waktu itu, mungkin sibuk dengan mantan kekasihnya. Dan tentu saja, aku juga sibuk dengan mantan kekasihku.

Waktu itu aku masih ingat betul. Akhirnya aku bertemu dengannya lagi. Rupanya dia masih mengingatku. Itu dibuktikan olehnya sendiri, dia memanggil namaku. Dan tentu saja, aku hanya menengok tanpa menyahut. Lalu tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai balasannya. Kemudian yang kulakukan adalah, sudah jelas, berlalu dengan cepat. Untung saja saat itu hari sudah gelap, jadi mataku yang melebar dan warna merah di pipi tidak bisa dilihatnya dengan jelas. Dan itu membuatku takut.

Suatu hari, ketika langit sore sedang emas-jingga-merah dan sangat disayangkan jika disaksikan sendirian saja. Dan aku bahkan tidak menyadarinya karena kuingat saat itu aku sedang masygul karena ulah si mantan kekasih. Aku hendak pulang dari kampus. Karena jarak dari kampus menuju rumah kos tidak jauh, lebih tepatnya amat sangat dekat, jadi aku memilih untuk jalan kaki saja. Lalu dia, yang kemudian menjadi kekasihku, lewat dengan sepeda motornya dan menghentikan perjalanan pulangku yang baru saja dimulai.

"Hei!"
"Eh, halo!"
"Mau ke mana?"
"Aku mau pulang..."
"Sendiri? Kekasihmu kan, ada di dalam?" (maksudnya di dalam kampus)
"Oh ya? Ehm, iya... Aku jalan karena kosku dekat..." (dan sesungguhnya aku tidak tahu kalau si mantan kekasih sedang di kampus)
"Mau kuantar?"
(dan aku sungguh tidak butuh waktu untuk berpikir, ya lumayan juga tidak perlu jalan kaki. he-he.)
"Hmmm boleh, deh..."

Bingung. Sepanjang perjalanan aku diam saja. Selama ini kami memang tidak pernah mengobrol. Atau aku harus mulai berbicara? Tapi bertanya apa, ya? Dan akhirnya dia yang memulai untuk mengajakku berbicara.

"Langitnya bagus banget, ya?"
"Eh, apa?"
"Langitnya bagus. Ini kalau nonton di G*P pasti bagus..."
(Aku diam saja)
"Tapi males juga sih kalau nonton sendirian,"
(Aku masih diam saja. Sebaiknya jawab apa, ya? "Kekasihmu mana?" "Begitu ya?" "Atau nonton denganku saja?" Duh! Yang benar saja.)
"Hmmm. Itu, yang pojok rumah kosku..."

Aku turun dari sepeda motornya. Aku memastikan dia berlalu terlebih dahulu, baru kemudian aku membalik badan dan berjalan masuk dengan wajah yang lagi-lagi memerah.

*bersambung*