Tahun ini, umurku akan menjadi 32 tahun. Bulan Juni nanti. Wahai teman-teman angkatan '94, how's life? Mantap, kan? Hehehe. Maaf ya aku memulai tulisan ini dengan menyebalkan. Tapi sesungguhnya aku sangat berharap, semoga aku tidak akan jadi tua dan menyebalkan.
Kabarnya, baru-baru ini usia remaja yang resmi diperpanjang sampai umur 32 tahun. Nah, cocok. Tahun ini masih punya jatah lah kita untuk disebut remaja. Yah, meskipun punggung dan pinggang aku ini kadang-kadang kurang sinkron dengan semangat yang masih membara.
Apakah benar bahwa fase usia 20an lalu adalah fase penentuan bagaimana jati diri kita yang sesungguhnya? Hari ini, aku pikir itu ada benarnya juga. Usia 20an awal rasanya sangat seru ya? Semangat paling membara dalam hidupku mungkin ada di situ, dilengkapi dengan kesadaran akan menjemput kehidupan dewasa.
Nah, beda cerita ketika mulai menyeberangi usia 20an akhir. Sepertinya di situ aku mulai banyak dihantam sana sini. Mulai dikasih yang sebenar-benarnya perkenalan tentang kehidupan dewasa. Keputusan hari ini (saat itu) tidak lagi hanya untuk hari ini dan besok, tetapi juga mungkin untuk bulan depan, tahun depan, atau belasan tahun ke depan.
Aku masih sering kali berpikir dengan banyak what if. Normal saja. Aku juga kan orang. Di banyak tulisan dan teori tentang kesadaran di sini-kini, aku rasa sangat nyaman untuk ada di dalamnya. Belum, aku belum bisa sepenuh-penuhnya. Tapi bisa selalu kembali mengingat konsep itu, rasanya aku sudah cukup bangga dengan apa yang diriku lakukan.
Sebenarnya tulisan ini juga tidak punya tujuan yang pasti. Yang pasti hanya satu, tulisan ini dibuat karena keinginan pribadi untuk menulis. Itu saja.
Sehat selalu.