Selasa, 31 Maret 2026

Tahun Ini, Aku Masih Remaja

Tahun ini, umurku akan menjadi 32 tahun. Bulan Juni nanti. Wahai teman-teman angkatan '94, how's life? Mantap, kan? Hehehe. Maaf ya aku memulai tulisan ini dengan menyebalkan. Tapi sesungguhnya aku sangat berharap, semoga aku tidak akan jadi tua dan menyebalkan. 

Kabarnya, baru-baru ini usia remaja yang resmi diperpanjang sampai umur 32 tahun. Nah, cocok. Tahun ini masih punya jatah lah kita untuk disebut remaja. Yah, meskipun punggung dan pinggang aku ini kadang-kadang kurang sinkron dengan semangat yang masih membara. 

Apakah benar bahwa fase usia 20an lalu adalah fase penentuan bagaimana jati diri kita yang sesungguhnya? Hari ini, aku pikir itu ada benarnya juga. Usia 20an awal rasanya sangat seru ya? Semangat paling membara dalam hidupku mungkin ada di situ, dilengkapi dengan kesadaran akan menjemput kehidupan dewasa. 

Nah, beda cerita ketika mulai menyeberangi usia 20an akhir. Sepertinya di situ aku mulai banyak dihantam sana sini. Mulai dikasih yang sebenar-benarnya perkenalan tentang kehidupan dewasa. Keputusan hari ini (saat itu) tidak lagi hanya untuk hari ini dan besok, tetapi juga mungkin untuk bulan depan, tahun depan, atau belasan tahun ke depan.

Aku masih sering kali berpikir dengan banyak what if. Normal saja. Aku juga kan orang. Di banyak tulisan dan teori tentang kesadaran di sini-kini, aku rasa sangat nyaman untuk ada di dalamnya. Belum, aku belum bisa sepenuh-penuhnya. Tapi bisa selalu kembali mengingat konsep itu, rasanya aku sudah cukup bangga dengan apa yang diriku lakukan. 

Sebenarnya tulisan ini juga tidak punya tujuan yang pasti. Yang pasti hanya satu, tulisan ini dibuat karena keinginan pribadi untuk menulis. Itu saja.

Sehat selalu.


Minggu, 01 Maret 2026

Catatan Pagi

 

Kalau saja semua orang bisa berpikiran seperti yang kita inginkan, betapa aku ingin mereka tahu bagaimana tidak enaknya perasaan rendah diri ini. Betapa tersiksanya selalu dianggap remeh, disepelekan, dipandang sebelah mata. Hanya karena aku kecil, paling kecil, terlihat kekanakan, terlihat biasa saja, dan bahkan karena aku perempuan.

Betapa menyedihkan dan betapa bencinya aku pada patriarki yang ternyata dekat sekali denganku. Betapa bencinya aku tidak pernah dipandang setara dan aku merasa tidak pernah divalidasi. 

Aku mencoba kembali ke dalam diriku lebih dalam lagi. Mencoba merunut luka-luka yang pernah kudapatkan, barangkali mereka berperan serta? Dikecilkan karena anak paling kecil. Dikecilkan karena dianggap lebih muda dan tak lebih berpengalaman daripada mereka yang tua. Dikecilkan karena dianggap tak punya kuasa dalam sebuah hubungan. Dikhianati. Dibohongi.


24/02/2026
Di Gejayan, perjalanan menuju tempat bekerja

Minggu, 05 Oktober 2025

Teardrop

 I’ve been trying so hard these past two years

and it’s draining my self so much. Too much.


Jumat, 28 Juli 2023

Seandainya...

Sampai di sini, perjalananku ternyata cukup panjang. Aku sadar keadaanku, karenanya aku membuat keputusan untuk meminta pertolongan. Meski tidak semudah itu, permulaannya, hambatannya, aku belum akan berhenti, aku belum mau berhenti, akan aku selesaikan apa yang sudah kumulai ini.

Hari ini aku disadarkan akan beberapa hal. Selama ini aku mengira bahwa aku hanya diam di tempat, semata-mata karena begitu banyak kegagalan yang aku alami. Tapi ternyata tidak. Katanya, justru aku berpogres. Bahkan katanya, aku tidak makin memburuk. Katanya, aku berani mencoba lagi, dari begitu banyak kegagalan dan kesakitan yang sudah pernah aku alami. Ya, memang, kini aku jadi mudah menangis, bahkan menangis sampai menjadi-jadi. Tapi, katanya, aku berani, karena setelahnya aku masih mau mencoba lagi. Katanya, aku bisa.

Aku sangat terharu. Hatiku seketika terasa besar dan kuat. Rupanya masih ada yang melihat diriku utuh atas apa yang aku lakukan. Masih ada yang menganggap keberadaanku benar-benar ada, merasa bangga denganku, dan tanpa ragu mengatakannya, bahkan...tanpa perlu aku minta.

Setelah merenunginya, aku mulai berandai-andai. Seandainya... Seandainya...


Minggu, 24 April 2022

Mode Bertahan

"Katanya, lebih baik merasa salah daripada selalu merasa benar,"

"Nanti, setiap usahamu, rasa lelahmu, rasa putus asamu, pasti akan terbayar. Pasti. Itu janji. Tapi jangan diharap-harap..."

"Diikhlaskan. Selama kamu belum berani melepaskan yang buruk, yang lebih baik tidak akan pernah datang karena tidak ada ruang,"

"Jangan takut,"

"Kupikir tidak semua orang siap memahami bahwa mereka bisa bikin orang lain sedih,"

"Jangan paksakan genggamanmu,"

"Mode bertahan, seperti orang main bola kan tidak terus menyerang, ada bertahannya juga,"

"Kamu sudah tahu dengan pasti apa yang harus kamu lakukan,"