Aku menulis sajak ini ketika sedang berkencan
dengan malam dan segala kebisuannya.
Sederhana saja,
aku masih setia dengan gelarku seperti biasanya, insomnis.
Tak lama kemudian, abangku pulang dengan membawa dua kotak kue.
Masing-masing kotak berisi empat potong kue
yang ku tahu itu terlalu banyak untuk jumlah orang di rumah kami.
Hal lain lagi yang ku tahu adalah bahwa
udara di luar sana sedang beku, sedang benci pada para pengguna jalan dan pengguna malam.
Tapi abang cepat pulang
dan tidak lupa bahwa adiknya ini sudah seperti
penjaga malam yang berkawan sepi namun berisik di perutnya.
Terimakasih abang.