Kamis, 13 Februari 2014

yang dengan sengaja tidak akan kuselesaikan

ketika aku membuka mata karena merasa bahwa kedua mataku mulai basah, lidah dan tenggorokanku terasa kaku, juga perasaanku yang semakin kelu, aku mengutuki hari kamis yang melelahkan ini. aku mengutuki malam kesekian yang tidak ditandangi hujan. aku mengutuki kebahagiaan yang bersembunyi dari hari kamis setelah sekian waktu berlalu.

sudah begitu banyak pagi yang kuhabiskan dengan tidak mendengarkan tarikan nafas dan detak jantung seperti yang selalu kudengar sepanjang pagi. sudah begitu banyak sore yang kuhabiskan dengan kelelahan mengejar dan menangkap senja memerah. sudah begitu banyak malam yang kuhabiskan dengan menghitung lembar-lembar rindu yang belum selesai, lebih tepatnya yang dengan sengaja tidak akan kuselesaikan.

seperti yang kamu selalu tahu bahwa aku adalah yang sangat tidak mampu meredamkan rindu. aku adalah yang paling tidak mampu menahankan rasa yang selalu menginginkan pertemuan. sore beranjak malam, malam menjelma pagi, pagi berangsur kembali menjadi sore, begitu seterusnya aku selalu mengidam-idamkan bertemu denganmu. pertemuan yang menyenangkan, diiringi sepasang piring makan dan isinya yang telah kita pilih masing-masing serta dua gelas air dingin, lengkap dengan kepulan asap rokokmu yang membumbung tinggi-tinggi, dan segala perbincangan atau cerita darimu yang selalu membuatku jatuh cinta. pun pertemuan yang menyedihkan, tanpa kata, tanpa tertawa dan tanpa cengkerama.

terima kasih untuk mencintaiku setiap waktu. terima kasih untuk membawaku bersama semestamu, selalu dan sepanjang hari. terima kasih untuk membuatku menikmati candu terhadap segala bentuk pertemuan, pertemuan dengan setiap sisi dan sudutmu.

karena itulah, aku selalu tidak ingin menghabiskan pun menyelesaikan rasa rindu, rasa rindu yang selalu tertuju hanya pada kamu.

fa.