Kamis, 25 Desember 2014

Menggenggam Pasir


Suatu saat aku bertanya kepada si Alay, "Lay, kalau menggenggam pasir, apakah menyebabkan tangan jadi sakit dan terluka? Atau malah pasirnya akan runtuh dan lepas dari genggaman?" Cukup lama kemudian si Alay menjawab, "Bukan tangan yang salah. Pasir itu susah dimiliki, susah digenggam. Dia mudah lepas. Setelah itu tangannya jadi sakit". Belum puas dengan jawaban si Alay, aku bertanya kembali, "Jadi, pasir yang salah ya, karena terlalu mudah lepas dari genggaman?" Kali ini ia menjawab dengan cukup cepat, "Bisa. Tapi tangan juga bisa salah. Lah wis ngerti pasir koyok ngono kok digenggam. Opo de'e ra mikir gawe plastik?"

Aku jadi makin pusing. "Hmm. Oke. Jadi pasir dan tangan sama-sama salah, ya..." Kukira si Alay akan diam saja dan segera melupakan pertanyaanku yang sungguh-sungguh tidak jelas malam itu. Dan sungguh, aku benar-benar menghitungnya, sepuluh menit kemudian ia berbicara lagi. "Nek dipikir neh, aku lebih condong ke tangan yang salah. Masalahe, de'e sing dadi subjek dan gak paham karo objek. Ujung-ujunge ya sakit," dia mengambil napas sejenak, "nek pasir mudah lepas kan memang sifatnya."

Entah kenapa aku masih tidak puas dengan jawaban si Alay. "Lho, tapi Lay, si tangan kan cuma melakukan apa yang jadi keinginannya, yaitu menggenggam pasir. Opo yo salah nek kita melakukan saja apa yang memang kita inginkan?" Lalu jawaban terakhir dari si Alay membuatku diam dan tidak lagi menyanggah, "Keinginan tanpa pemikiran. Ibarat pengen mangan tapi ra duwe duit. Tapi tetep nekat mangan. Ujung-ujunge dikeplaki sing duwe warung."


Sekian.