Sore ini aku duduk diam di depan komputer jinjing, dan tentu, sambil terus menggigil kedinginan. Sudah dua hari, hujan tidak berhenti di Yogya. Sesekali lebat, lalu rintik, kemudian lebat lagi, dan rintik lagi. Nyaris tanpa jeda, matahari tidak diberi kesempatan untuk menyapa.
Seperti hujan saat ini, jari-jariku konsisten sekali di atas kibor. Sesekali mengetik, diam, menghapus, mengetik, menghapus lagi, lalu diam lagi. Sore ini aku menutup sementara jendela-jendela beban di dalam komputer jinjing, lalu memilih untuk kembali sejenak ke sini. Beberapa jam kemudian, aku tersadar bahwa perutku belum juga terisi nasi sejak pagi.
Entah sudah berapa pagi kutemui sejak hari penyesalan itu datang. Sekira tujuh tahun yang lalu. Hari itu, aku tahu pasti bahwa sesuatu yang salah sedang terjadi dalam diriku. Hari itu, aku tahu pasti bahwa hidupku kemudian tidak akan baik-baik saja. Hari itu, aku tahu pasti bahwa aku tengah menyesal. Setelah hari itu, pagi hariku tidak pernah lagi terasa sama seperti sebelumnya.
Memecahkan botol-botol bir yang kuhabiskan semuanya sendiri, lalu kutebarkan pecahannya, dan aku berjalan di atasnya. Sepertinya hari itu kusebar pecahannya terlalu banyak, juga terlalu jauh. Pecahan itu masih ada, masih kulewati, pun sepertinya makin bertambah hingga menancap-nancap kuat sekali di telapak kaki.
Selalu kukira bahwa aku telah menempuh perjalanan menyembuhkan dan mengenali diri sendiri. Namun, nihil. Alih-alih memulainya, aku malah sengaja berlari dan singgah ke sana kemari. Membuat pecahan tadi menancap semakin hebat, lalu berujung dengan mengumpati diri sendiri hingga kehabisan tenaga. Terus begitu, hingga tidak tahu kapan.